Penghasilan Pacarku Sekitar 60 Juta Sebulan, Tapi Setelah Makan Bersama dengan Keluarganya, Aku Memi

Usiaku 28 tahun, kenal dengan pacarku juga karena dijodohkan. Ia adalah seorang wakil manajer sebuah perusahaan besar, dengan gaji bulanan sekitar 60 juta.

Ia berusia tiga puluh tahun, sosoknya tinggi dan tampan, sementara orang tuanya adalah pensiunan pegawai bank, dari berbagai sisi dia juga sangat baik.

Sedangkan aku adalah supervisor bagian pemasaran dengan gaji bulanan sekitar 25 juta. Orangtuaku adalah petani.

Setelah berkenalan dan merasa ada persamaan atau kecocokan satu sama lain, kami pun berpacaran.

Tak lama kemudian, ia berencana mengajakku bertemu dengan orangtuanya. Akupun membelikan sesuatu untuk orangtuanya sebagai salam perkenalan.

Akhirnya pacarku mengundang aku makan sambil berkenalan dengan kedua orangtuanya di sebuah restoran di dekat kantornya.

Waktu itu aku merasa kurang cocok makan di tempat tersebut, karena suasananya kurang ideal untuk pertemuan, selain itu, tempat tinggal orangtuanya juga sangat jauh dari restoran, aku mempertimbangkan kondisi fisik orangtuanya, karena bagaimana pun juga orangtuanya juga sudah tua.

Tapi pacarku bilang tidak apa-apa, hanya sekadar makan dan bincang-bincang sejenak, akulah yang berlebihan, katanya.

Tak lama kemudian, kedua orangtuanya pun datang, dan setelah saling berkenalan, ibunya pun ngobrol denganku, sementara pacarku malah sibuk dengan ponselnya.
Ilustrasi

Ayah dari pacarku tampak sibuk masukkan bumbu dan sayur mayur atau irisan/potongan daging ke dalam panci hangat, kemudian dituang ke dalam mangkuk, lalu diberikan pada pacarku.

Pacarku dengan santai menerimanya, sepertinya sudah terbiasa, tampak jelas sekali dalam keseharian pacarku ini hanya tinggal menikmati makanan yang telah dihidangkan di rumahnya.

Saat makan, ibunya mengambilkan lauk untukku, begitu juga pacarku mengambilkan lauk untukku, tapi dia tak pernah sedikit pun mengambilkan lauk untuk ayah-ibunya, sebaliknya justeru orangtuanya yang selalu mengambilkan lauk untuknya.

Usai makan dan saat mau pulang, ibunya berpesan padanya agar hati-hati di jalan, dan mungkin selanjutnya beberapa patah kata sehingga seketika membuatnya tidak senang dan bersikap kasar pada ibunya, selain itu, mengingat tempat tinggalnya yang jauh, ia juga tidak berinisiatif mengantar ayah-ibunya pulang.

Setelah acara makan-makan bersami ini, aku merasa sosok pria seperti ini tidak layak dijadikan suami.

Meskipun dari sejumlah sisi tidak mengecewakan, tapi kita bukan menikah dengan kondisinya, namun dengan sosok orangnya.



Loading...
loading...

Leave a Comment