Pacarku Ingin Membuatku Hamil,tapi Ketika Aku Tanya,Bagaimana Merencanakan Masa Depan? Nyesek..

Asmara yang kami jalin tidak mengesankan beberapa waktu lalu baru saja berakhir, sebab utamanya karena berbeda pandangan soal momongan/ anak.

Aku seorang mahasiswi yang kuliah malam dan punya penghasilan tetap.

Aku punya perencanaan masa depan yang lumayan cerah.


Oleh karena itu untuk sementara jika menikah nanti, aku tidak ada ide memiliki momongan (anak) dahulu dalam perencanaanku.

Pacarku adalah seorang tokoh masyarakat yang tidak melanjutkan studinya lagi.

Selama pacaran dengannya ia selalu berbicara tentang momongan.


Itu satu masalah yang membuat kami berbeda pandangan.

Hingga akhirnya, alasan yang membuat kami putus adalah karena keluarga dari pacarku itu selalu berbicara tentang momongan setelah menikah.

Dia pun berpikiran gila, bermaksud langsung saja menghamiliku meski belum menikah.

Niatnya ketika itu tidak berhasil. Atas tindakannya yang gagal, dia melemparkan masalah itu pada keluarganya.Dia menjelaskan panjang lebar tentang masalah anak.

Menurutnya nantinya aku tidak usah bekerja, urus anak-anak saja jika menikah kelak.
Ilustrasi. Sumber: pinimg.com

Lalu aku pun dengan tenang bertanya padanya.

“Aku tidak punya uang sekarang, aku masih mau kuliah, apa kamu punya uang untuk biaya hidup anak nanti, punya uang beli rumah untuk anak, punya uang beli mobil untuk antar jemput anak, punya uang untuk mengajak anak bermain? Kamu memiliki uang untuk membeli rumah untuk anak-anak? Kamu memiliki uang untuk membeli mobil pick-up anak-anak? Apakah kamu memiliki uang untuk membiayai anak-anak? Bagaimana merencanakan masa depan?” Tanyaku.

Jawaban yang aku dapatkan adalah, “Tidak ada. Tidak ada. Tidak ada dan Tidak ada. Selebihnya tidak ada lagi!”

Akhirnya, aku pun di-cap sebagai cewek materialistis oleh keluarganya.

Aku berkata dengan lantang karena punya alasan yang kuat dan benar.

“Sejak kecil, keluarga kami adalah kaum pengontrak, kerap terpaksa pindah rumah karena pemiliknya punya rencana lain atas rumahnya, dan kerap harus dengan segera menemukan sebuah tempat bernaung. Belakangan berkat usaha keras dan hidup hemat, akhirnya ayah bisa membeli rumah, dan uang yang tersisa juga hanya cukup untuk biaya hidup sehari-hari. Tidak ada sisa untuk hiburan meski sekadarnya,” jawabku.
Ilustrasi. Sumber: freepik.com

Jadi aku yakin, karena aku sangat memahami dengan rasa (himpitan hidup) itu, dan aku tak ingin anakku kelak merasakannya.

Tidak salah memang berkeinginan punya momongan, tapi coba renungkan sejenak kehidupan seperti apa yang diberikan pada anak-anak nanti.

Aku berpikir rasional, mencari uang (bekerja) demi materi, dan uang yang aku dapatkan selalu menjadi prioritas diinvestasikan dulu untuk diriku.

Demikian juga tujuan dari menabung, yakni demi realitas kehidupan, harus bisa memikul biaya pengeluaran yang cukup dalam perencanaan masa depan.

Harus bisa merespon bencana tak terduga yang bisa saja terjadi setiap detik.

Harus bisa membuat orangtua tahu bahwa aku bisa menafkahi hidupku sendiri dan tidak akan kelaparan, dan cukup untuk bisa membeli mobil, rumah untuk orang tuaku.Maaf wahai pria, aku bisa mencari uang sendiri, aku mampu menghidupi anakku, dan aku sanggup menafkahi orangtuaku!

Dan dalam rencana masa depanku, maaf, tidak ada anakmu, tidak ada orangtuamu dan tidak juga kamu!



Loading...
loading...

Leave a Comment