Orangtuaku Merasa Malu Aku Menikahi Istri 10 Tahun Lebih Tua Dariku,Tapi Suatu Hari Tak Disangka…

Ini adalah cerita tentang seorang pria lajang yang muda dan energik ketika beristrikan dengan wanita yang lebih tua.

Berbagai polemik telah terjadi pada keluarga mempelai pria ini khususnya pada ortu pria ini, hari demi hari terus dilalui oleh pasutri ini.

Ikutilah kisahnya berikut ini :

Di usiaku yang ke 25 tahun waktu itu, aku bekerja sebagai pelayan di sebuah restoran, supervisor kami adalah seorang wanita yang tinggi, cantik, dan menarik.

Hanya saja usia wanita itu sudah lebih dari 30 tahun, tapi entah kenapa belum juga menikah di usianya yang terbilang tua bagi seorang wanita lajang.
Ilustrasi (iStock)

Karena baru kerja di restoran itu, jadi masih banyak hal yang belum dipahami oleh diriku.

Saat itu, ia sering membantuku, mengajariku cara yang benar dalam melayani tamu, dengan sabar ia membimbingku sampai mengerti.

Dikarenakan sering bertemu, lama kelamaan timbul rasa suka sama dia, dan aku tahu dia juga memiliki rasa yang sama sepertiku.

Aku pun tak peduli lagi dengan tatapan aneh rekan-rekan, suatu hari aku mengutarakan perasaanku, dan ternyata perasaanku tak bertepuk sebelah tangan, ia setuju menjadi pacarku.

Enam bulan kemudian, aku pun melamarnya, tapi orangtuaku tidak setuju aku menikahi wanita yang 10 tahun lebih tua dariku, alasan mereka hanya karena aku membuat malu menikahi wanita yang lebih tua.

Melihat keteguhan mereka yang jelas-jelas menentang hubunganku dengannya, aku pun menunggu nasi menjadi bubur, maka mereka pun tidak punya alasan lagi untuk menentangnya.

Setelah aku konsultasikan dengan pacarku, kami pun secara diam-diam mendaftar pernikahan kami.
Ilustrasi (Photos.com)

Saat itu, kami mengundang beberapa teman menjadi saksi pernikahan kami.

Setelah lebih dari satu tahun menikah, orangtuaku masih marah, mereka melarangku pulang ke rumah saat hari raya.

Pada awal tahun, ibuku tiba-tiba lumpuh karena stroke dan berbaring lemah di tempat tidur.

Kakak dan iparku yang tinggal di kota tidak bersedia menyumbangkan uang untuk biaya berobat ibu, apalagi pulang kampung menjenguk ibu yang sakit.

Aku semakin gelisah melihat ketidapedulian mereka sama ibu, dan isteriku yang mengetahui hal itu, kemudian tanpa banyak bicara lagi langsung menarik uangnya di bank dan memberikannya padaku.

Lalu ia ikut bersamaku pulang kampung menjenguk orangtua yang sakit.

Sesampainya di kampung, aku pun membawa ibu ke rumah sakit dan rawat inap untuk perawatan intensif.

Setelah itu, aku kembali bekerja, sementara isteriku bilang akan tinggal beberapa waktu dulu untuk merawat ibuku.

Istriku beralasan, dia wanita, jadi lebih ideal kalau tinggal disini merawat ibu.

Selama satu bulan rawat inap di rumah sakit, istriku merawat dan menjaga ibu tanpa mengeluh sedikit pun.
Ilustrasi rawat inap di rumah sakit (Shutterstock*)

Istriku menyiapkan dan mengerjakan segala keperluan ibu, sampai ibu pulang dari rumah sakit.

Istriku juga membelikan banyak makanan bergizi, dan dengan sabar mengajari ayah cara memijat badan ibu, setelah itu baru pulang dan beraktivitas lagi seperti biasa.

Belakangan, ibu pun sembuh dari penyakitnya.

Ibuku sudah bisa turun dari ranjang dan tidak sabar ingin segera meneleponku.

Tak disangka, saat di ujung telepon ibu berpesan agar hari raya nanti pulang bersama istriku.

Bahkan ibu juga minta maaf padaku, ibu mengatakan dengan nada menyesal.
Ibuku bilang tidak seharusnya mereka menentang pernikahan kami waktu itu, dan memuji bahwa pilihanku memang hebat.

Ibuku bilang aku mendapatkan seorang istri yang baik, sehingga mereka juga ikut menikmati kebahagiaan itu.

Belakangan ibu menyuruh kami mengadakan upacara pernikahan ulang secara resmi.

Ibuku menitip pesan padaku, supaya istriku atau menantunya yang sekarang mereka akui itu jangan mengirim uang lagi untuk mereka. Alasannya uang yang mereka miliki sudah cukup.

Perasaanku berkecamuk antara gembira, terkejut dan haru mendengar kata-kata ibuku.

Ternyata istriku secara diam-diam melakukan banyak hal dengan tulus dan sepenuh hati untuk orangtuaku di kampung.

Setiap manusia itu pasti punya perasaan, akhirnya sekarang orangtuaku tersentuh oleh ketulusan istriku.

Dengan bahagia aku pun memeluk erat isteriku saat dia pulang ke rumah.

Aku berkata dalam hati akan lebih melipatgandakan rasa sayang dan cintaku padanya.



Loading...
loading...

Leave a Comment