Nenek Tua Ini mengembalikan Dompet yang Ditemukannya, Tapi Si Pemilik Malah Mengaku Begini, Hingga..

 Di pasar sayur kota Chengnan, Tiongkok kerap terlihat seorang nenek, sebut saja namanya nenek Sonya.

Nenek Setiap hari, nenek Sonya selalu memungut beberapa potongan sayur-sayuran yang dibuang di depan kios penjaja sayur.

Semua orang di sekitar tahu nenek Sonya adalah seorang wanita tua yang malang, suaminya meninggal saat anaknya masih kecil, sehingga nenek Sonya harus membesarkan putranya seorang diri.

Namun, nasib malang sepertinya selalu menyertai si nenek, saat putranya telah dewasa dan menikah serta memiliki momongan. Putranya didiagnosis menderita penyakit diabetes stadium akhir.

Terlebih lagi menantu si nenek atau isteri putranya seketika minta cerai karena penyakitnya ini dan memilih meninggalkan anak mereka, sehingga si nenek kembali harus menanggung beban hidup sekeluarga.

Namun, karena miskin, kondisi anaknya juga tidak mendapatkan perawatan yang memadai, akhirnya putranya pun meninggal.

Nenek Sonya telah menginjak usia 70 tahun, dan karena sudah tua, sehingga tidak bisa lagi bekerja di luar, si nenek terpaksa memungut sampah daur ulang untuk menghidupi diri dan cucu perempuannya.

Setiap pagi dia pergi ke pasar memunggut daun-daun sayuran untuk dijadikan lauk pauk sebagai makanan sehari bersama cucunya.

Penghasilan yang seadanya, dia membesarkan cucunya itu. Hal yang paling dia takutkan adalah, cucunya akan menjadi yatim piatu jika suatu hari nanti dia meninggal dunia.

Oleh karena itu, dia sangat berharap dirinya masih bisa bertahan beberapa tahun lagi.

Suatu pagi, cucunya harus bayar biaya pendidikan sebesar 200 ribu.

Uang sebesar 200 ribu adalah uang yang dihasilkan nenek ini selama sebulan lebih dari hasil mungut sampah. Nenek Sonya tidak tahu dirinya sanggup membiayai cucunya sampai kapan.

Hari itu, nenek Sonya mengaduk-aduk tempat sampah diiringi hujan lebat, dia berharap bisa mendapatkan botol plastik atau kaleng minuman.

Siangnya, nenek Sonya menikmati mantou (roti kukus tanpa isi) dan air minum sisa kemarin malam sebagai bekal makan siangnya.

Malamnya, nenek Sonya membawa sekantong sampah daur ulang, untuk dijual ke pos daur ulang terdekat, sambil berjalan ia memperkirakan bisa mendapatkan sekitar 30 ribu-an.

Bukan main senangnya nenek Sonya setelah laku terjual, hari berganti malam, jalanan mulai sepi, lampu penerang pun sudah dinyalakan, dalam perjalanan pulangnya, tiba-tiba nenek Sonya melihat dompet kulit berwarna hitam.

Dia memungutnya dan melihat isi di dalamnya, ada 4 juta rupiah. Wow! Uang yang banyak sekali! Dia langsung berpikir, “pemiliknya pasti gelisah kehilangan uangnya.”


Sepertinya dompet itu tidak lama terjatuh dan tidak disadari oleh pemiliknya.

“Ya sudah, saya tunggu di sini saja biar pemiliknya gampang mencariku,” gumamnya.

Nenek Sonya pun menunggu dan menunggu, hingga muncul sebuah mobil mewah melewati jalan itu dengan kecepatan seperti kura-kura.

Seorang pria setengah baya dengan jas yang kelihatannya mahal turun dan bertanya pada nenek Sonya :

“Nek, apa nenek melihat dompet di sekitar sini?”

Nenek pun meminta pria ini menggambarkan bentuk dompet tersebut dan benar, dompet yang digambarkannya sama persis dengan dompet yang dipungutnya.

Nenek pun menyerahkan dompet itu.

Saat pria ini memeriksa isi dompetnya, wajahnya yang tadinya tersenyum seketika berhenti dan berkata dengan nada dingin : “Wah, tidak benar nih, jelas-jelas ada 8 juta rupiah, kok hanya tersisa 4 juta rupiah ?”

“Tidak mungkin, saya tidak mengambil sepeser pun, saya hanya membuka untuk melihat apa isinya, sungguh saya tidak menyentuh uangnya sama sekali, jika memang saya berniat mengambilnya, tidak mungkin saya menunggu anda kembali,” ujar nenek Sonya membela diri.

Bagaimanapun nenek Sonya membela diri, pria pemilik dompet tampaknya tidak terima, karena dia merasa uangnya diambil oleh nenek Sonya.



Pada saat itu, dalam kepasrahannya, nenek Sonya hampir berlutut di depan pria itu, bersamaan dengan itu, seorang remaja perempuan keluar dari dalam mobil dan menghampiri mereka berdua, “ada apa sih pa, kok ribut – ribut?”

Nenek Sonya langsung berkata pada si remaja, “Nak, tolong jelaskan pada papamu. Saya menemukan dompetnya, dan isinya memang hanya 4 juta, saya tidak tahu apa-apa, saya tidak ambil uang itu sama sekali, sumpah!” kata nenek Sonya.

Mendengar penjelasan si nenek, si remaja langsung bicara pada papanya, “Pa, papa ini gimana sih? Masa masih muda sudah lupa, tadi siang kita beli barang 6 juta !?”

Papanya berpikir baru ingat, “Oh ya, ternyata tadi aku beli barang ya! Nek maafkan aku, aku benar-benar lupa!

“Maafkan aku! Kalau begitu, dalam dompetku kelebihan 2 juta, ini bukan uangku, berarti 2 juta ini nenek ambil saja ya sebagai permintaan maaf saya, saya hanya ambil bagianku saja!” Nenek ini terpaku memegang uang 2 juta rupiah.

Di samping lega karena tak dituduh lagi, dia juga bersyukur bertemu dengan putri si empunya dompet.

Nenek ini tahu, putrinya sengaja bilang 6 padahal mungkin harga barangnya 4 juta rupiah, tapi karena putri ini tahu papanya punya ingatan yang lemah dan sedikit keterlaluan, akhirnya putrinya berkata seperti ini, mungkin sebagai bentuk permintaan maaf juga.

Nenek ini pulang dengan rasa syukur. Sepulangnya di rumah, dia menceritakan kejadian itu pada cucunya.

Mungkin karena kejujuran si nenek, sehingga Sang Maha Melihat membantu si nenek melalui putri si empunya dompet dengan cara seperti itu.

Bayangkan coba, apa yang akan terjadi selanjutnya jika tidak ada si remaja saat itu. (jhon/asr) Beautieslife



Loading...
loading...

Leave a Comment