Mengharukan, Pemulung Bingung Jual HP Jadul Demi Biaya Pengobatan Anaknya di RS

Penuh perasaan bingung dan wajah menerawang, Nengah Wage (43) ayah dari pasien Komang Dewi Alisia Putri (5) hanya bisa pasrah. Itu setelah dia disodorkan biaya operasi patah tulang anaknya sebesar Rp 11 juta oleh pihak RSUP Sanglah, Denpasar Bali.

Putrinya dirawat di rumah sakit setelah mengalami cidera patah tulang kaki kanan akibat kecelakaan tunggal. Dengan nada putus asa, orangtua bocah ini menawarkan telepon genggam atau ponsel jadul miliknya kepada para pengunjung rumah sakit.

Mirisnya, ponsel milik Wage dijualnya bukan untuk bisa melakukan operasi pada kaki anaknya. Namun hanya untuk bisa beli nasi bungkus, karena anaknya lapar.

"Anak saya lapar pak, tolong ambil HP saya. Saya mau beli nasi bungkus. Saya jual Rp 400 ribu untuk beli nasi bungkus," ujar Wage kepada para pengunjung rumah sakit sambil menunjukkan ponselnya, Selasa (12/1).

Sambil menitikkan air mata, ayah asal Karangasem dan tinggal di kabupaten Tabanan ini sudah sebelas hari berada di rumah sakit guna menemani putrinya. Selama itu juga dia mengaku hanya menggantungkan hidupnya dari belas kasihan orang.

Bahkan makan sehari-hari dan biaya rawat inap, dirinya mengaku bingung harus mencari uang ke mana. Terlebih lagi saat pihak rumah sakit menyodorkan anggaran yang diperlukan untuk biaya operasi patah tulang anaknya.

"Biasanya saya dikasih uang atau nasi bungkus untuk makan dari penunggu pasien lain," ungkapnya.

Wage mengaku sehari-hari bekerja mencari barang rongsokan. Kini dia harus putar otak untuk mencari biaya operasi putrinya sebesar Rp 11 juta. "Dokter sudah menyarankan untuk dioperasi dengan biaya Rp 11 juta, tapi saya sama sekali tidak memiliki uang" keluhnya.

Dirinya mengaku bahwa selama ini keluarganya di desa juga tidak ada yang datang menjenguk karena disadarinya kampungnya berada di pelosok desa. Lebih Miris lagi, istrinya Made Suwati (47) sedang tergolek lemas karena mengalami lupus sejak 2 tahun yang lalu dan berada di gubuk tempatnya tinggal bersama barang-barang rongsokan hasil memulung. "Di sini anak saya sakit, di rumah istri saya yang sakit," keluhnya.

Dia mengaku selama ini menggunakan Jaminan Kesehatan Bali Mandara (JKBM) untuk biaya perawatan putrinya. Hanya saja untuk biaya alat operasi tidak ditanggung dari JKBM. ( (merdeka )



Loading...
loading...

Leave a Comment