Menantuku Minta 3 Syarat Aneh Ini Sebelum Menikah, Tak Disangka 3 Tahun Kemudian Jadi Begini...

Aku menikah pada umur yang muda. Tidak disangka putraku juga begitu. Ia yang baru berumur 18 menikah dengan pacarnya, Ani yang berumur 22 tahun.

Pertama kali ia mengenalkan Ani kepadaku, aku kaget setengah mati. Saat itu ia baru saja masuk kuliah. Aku juga mengatakan kepadanya bahwa pacaran untuk menikah memang bagus, tapi sekarang adalah waktunya untuk fokus belajar. Lagipula ia masih terlalu muda.

Seharusnya kuliah yang di prioritaskan. Namun, mereka tetap pacaran bahkan ldr (long distance relationship).

Setelah putraku lulus kuliah, ia membawa Ani pulang lagi. Ia langsung mengatakan bahwa mereka ingin menikah. Ternyata, Ani keras juga sifatnya. Ada 3 syarat sebelum menikah yang disebutkan oleh Ani.

1, ia tidak akan mengerjakan pekerjaan rumah. Katanya ia tidak mengerti pekerjaan rumah tangga, bahkan tidak pernah.

2, Ia tidak akan masak. Katanya asapnya tidak bagus untuk kulit wanita.

3, Ia masih muda, tidak ingin cepat-cepat punya anak.

Mendengar kondisi itu, aku meng-iyakan. Lucu juga anak ini. Yasudah, aku setujui. Tapi aku juga punya 3 syarat.

1, kamu tidak mau mengerjakan pekerjaan rumah tidak apa-apa, tapi beresin kamarmu sendiri. Tempat lain biar aku yang kerjakan.

2, kamu tidak masak tak apa, tapi ketika aku ingin beli makanan di luar, kamu bertugas membeli. Lagipula aku juga tidak suka masak. Tapi, makanannya bayar masing-masing.

3, untuk yang ini tidak apa-apa. Lagipula aku baru umur 40 tahun, tidak ingin buru-buru jadi nenek.

Ani juga setuju dengan kondisiku. Ia juga tanya kepadaku, sebulan boleh berapa kali pulang ke rumahnya, ia ingin mempelihara anjing. Ini semua terserah, aku beri kamu kebebasan kataku. Kamu menikah dengan anakku, orangtuamu yang membesarkanmu dari kecil jadi sudah seharusnya kamu berbakti kepada mereka. Setelah sepakat, kami dengan cepat tinggal bersama.

Ani yang sekarang, sudah punya anak dan bisa masak. Sekarang perutnya juga sedang mengandung anak kedua. Siapa yang sangka, pada akhirnya ia melanggar semua kondisinya itu. Aku bahkan sudah berkata kepada teman-temanku bahwa pada umur 50 pun aku tidak bakal jadi nenek.


Hati manusia bisa berubah, kamu baik kepadanya, ia juga akan baik kepadamu.

Awalnya semua berjalan seperti yang ia minta. Tidak beres-beres, tidak masak, tidak punya anak. Aku yang tiap hari membersihkan rumah sampai bersih. Kamar mereka juga sekalian aku bersihkan walau pada awalnya aku bilang tidak akan mengurus kamar mereka. Tapi siapa yang betah melihat kamar mereka yang berantakan.

Ketika beli makanan, aku juga membantu mereka beli. Terkadang aku juga bisa malas masak dan pesan makanan dari luar. Namun, aku juga membeli bagian mereka, bukannya benar-benar bayar pisah.

Ani tidak cuci baju sehingga aku bantu dia cuci. Ani terkadang harus lembur, pulang ke rumah sudah lelah dan langsung masuk ke kamar tidur. Ya sudah aku yang cuci.

Aku memperlakukannya seperti putri kandungku sendiri. Setiap kali ia berpergian, ia juga tidak lupa membeli hadiah untukku. Setiap ada liburan, putraku juga sering membawanya pergi jalan-jalan.
Sponsored Ad

Setiap kali Ani ulang tahun, aku selalu menyiapkan hadiah untuknya. Mungkin karena melihat semua ini, ia juga pelan-pelan berubah. Awalnya dari kaget, lalu menjadi kejutan, sampai pada akhirnya terharu. Terakhir, ia pun berubah.

Ani mulai rajin mengerjakan pekerjaan rumah dan belajar masak. Walau pada awalnya masakan nya tidak enak, tapi aku melihat bahwa ia sungguh-sungguh ingin belajar. Aku juga suka berkata, rahasia masakan enakku dicuri kamu. Ia menjawab, tunggu aku sudah bisa masakan ibu, ibu sudah boleh beristirahat.

Setelah menikah setahun, Ani hamil. Sama sekali bukan yang seperti ia bilang. Aku melihatnya dari wanita yang keras kepala menjadi wanita yang lembut dan ibu rumah tangga yang pintar. Aku juga menawarkan untuk menjaga anaknya. Meskipun pada awalnya aku juga tidak ingin menjadi nenek muda, tapi melihat cucu siapa sih yang tidak senang.

Melihat aku kecapean menjaga anak, ia pun berhenti bekerja dan menjadi ibu rumah tangga. Ia bilang kasihan melihatku. Sekarang, anak kedua Ani sudah berumur 5 bulan. Aku senang dapat melihat mereka pelan-pelan tumbuh.

Sekarang, hubungan kami bukan seperti mertua dan menantu, tetapi seperti teman. Kami dapat berbicara dengan bahagia, ia juga suka menceritakan tentang putraku.

Kami hanyalah keluarga biasa tapi kami bahagia.
Kami tidak kaya, putra dan suamiku hanya orang biasa. Gajinya tidak tinggi, tapi kami bahagia.
Kehangatan dan kebersamaan keluarga lebih penting dari segalanya.

Setiap orang mungkin menginginkan mertua seperti ini. Walau dari awalnya mereka tidak saling suka, walau tidak seperti yang kita kira, namun sikapmu dapat merubah segalanya!



Loading...
loading...

Leave a Comment