Mahasiswi Cantik Ini Diculik dan Hendak Dijual,Tapi Dia Beruntung Diselamatkan oleh Sesosok Misteriu

Ekonomi Tiongkok sekarang mungkin bisa dikatakan berada di peringkat pertama dunia, namun kesenjangan sangat mencolok antara kaya dan miskin. Di beberapa daerah kemiskinan masih tampak kentara. Krena miskinya, sandang pangan masih menjadi masalah.

Salah satu daerah tersebut adalah di Yongxing County. Hampir semua wilayahnya merupakan kawasan pegunungan, kondisi akses jalan sangat buruk. Merupakan tempat tinggal etnis minoritas serta suku Han. Anak-anak muda yang mau menikah juga menjadi masalah di sini.

Tindak kriminal didaerah ini sangat tinggi. Bahkan mereka juga memperdagangkan manusia.

Meski ada perbaikan dalam beberapa tahun terakhir ini, tapi tetap saja perdangangan manusia masih sering terjadi !

Zhu Fangfang adalah seorang mahasiswi tingkat III, saat libur, ia pun berencana pulang ke kampung halaman.
Ilustrasi.(Internet)

Tapi, beberapa hari itu, banyak siswa yang juga berencana pulang, sehingga tiket kereta atau bis pun sulit didapat. Akhirnya Zhu Fangfang naik kendaraan gelap (angkutan tidak resmi).

Kendaraan yang ditumpanginya adalah mobil van, sopirnya seorang pria paruh baya, sekilas dari mukanya tampak baik, selain itu juga ada beberapa perempuan seusianya, jadi, Fangfang pun tidak banyak pikir lagi dari sisi keamanan.

Ia pikir beberapa jam lagi akan sampai di rumah, jadi ia merasa sangat gembira saat itu.

Selama 8 jam berturut-turut, kendaraan gelap itu melesat di jalan bebas hambatan, saat jam makan, sopir menghentikan kendaraannya di tempat peristirahatan umum, kemudian membeli beberapa kotak makanan untuk penumpang.

Beberapa perempuan yang tengah menikmati makanannya tampak sangat terharu, dan mengucapkan terima kasih pada si sopir yang tersenyum lebar, sekilas tampak lucu menggemaskan melihat senyum pria paruh baya yang tampak polos itu.

Setelah makan, beberapa perempuan itu tiba-tiba merasa mengantuk, saat siuman keesokannya, mereka telah berada di sebuah tempat yang asing, termasuk Fangfang!

Fangfang terbaring di atas tempat tidur kecil yang reyot, ia merasa pusing, perutnya juga perih, seperti habis memakan sesuatu.

“Tempat apa ini?” gumam Fangfang sambil mencoba turun dari tempat tidur, saat ingin membuka pintu, ternyata pintunya terkunci.

Terlintas dalam benak Fangfang, jangan-jangan aku diculik ? Sampai disitu, sontak ia pun berteriak : “Tolong, tolong!”.

Mendengar teriakan Fangfang, orang-orang yang menjaga di luar pintu kemudian membuka pintu dan masuk ke dalam.

Tampak 3 pria berusia 30-an tertawa menyeringai sambil berkata : “Pagi istriku, sudah bangun ya, mau makan?”.
Ilustrasi. (Internet)

Fangfang tampak gelisah sekaligus marah : “Siapa istrimu, jangan ngomong sembarangan.”

Pria itu mengambil selembar bukti tertulis : “Saya telah membelimu seharga 40 juta dari pak sopir, jadi sekarang kamu adalah istriku. Nih buktinya hitam di atas putih tertulis dengan sangat jelas.”

“Palsu, palsu, semuanya palsu,” teriak Fangfang ingin merebut kertas itu, tapi disingkirkan si pria, kemudian meninggalkan Fangfang sambil berkata akan mencari makanan untuknya, lalu pintu itu dikunci dari luar.

Seperti kerasukan setan, Fangfang terus berteriak dari dalam pondok reyot itu, tapi sia-sia, tak ada orang yang mendengar teriakannya.

Tak lama kemudian, ia pun lemas dan jongkok di atas lantai sambil menangis.

Terbayang dalam benaknya beberapa gadis lain yang semobil dengannya, entah bagaimana nasib mereka, apakah juga dijual seperti dirinya.

Selama lebih dari satu bulan, Fangfang berada di daerah yang tak diketahuinya.

Setiap hari ia dikurung di dalam pondok reyot itu, sifatnya yang keras membuatnya tidak mau menyentuh makanan yang diberikan, tapi belakangan, keinginan untuk hidupnya mengubah keinginannya mati kelaparan.


Selama masih hidup, pasti ada secercah harapan untuk kabur, pikirnya. Lalu ia pun bersandiwara dengan pria yang mengurungnya itu.

Luo Qing, nama pria itu berulang kali ke pondoknya bermaksud menggagahinya, tapi selalu gagal karena Fangfang selalu berontak.

Fangfang pun mulai bersandiwara, ia berkata pada Luo Qing, kalau menginginkan dirinya, harus tunggu menikah dulu secara resmi.

Luo Qing yang tidak pernah mengecap pendidikan ini pun tertegun sejenak, akhirnya mau juga dinikahi, pikirnya. Kemudian dia pun menyiapkan upacara pernikahannya.

Setelah memuji-muji pria yang tampak dungu itu, akhirnya Fangfang mengetahui daerah tempatnya disekap, dari gambarannya, tampaknya ada ribuan mil jauhnya darinya rumahnya.

Untuk naik kereta juga juga butuh waktu puluhan jam lamanya, sementara beberapa wanita yang datang bersamanya waktu itu juga dijual di desa ini.

Fangfang ingin bertanya lebih lanjut mengenai kondisi beberapa wanita itu, tapi kali ini, pria itu tampaknya lebih waspada, ia diam membisu tidak banyak bicara lagi.

Seminggu kemudian, Luo Qing telah menyiapkan segala sesuatu untuk pernikahannya, tapi Fangfang belum mendapatkan ide yang cemerlang untuk melarikan diri.

Malam itu, Luo Qing pergi setelah mengantarkan makanan untuk Fangfang, sementara Fangfang hanya bisa berjongkok di depan pintu dan tak tahan dia pun menangis.

Tepat pada saat itu, samar-samar terdengar suara langkah kaki dari luar pintu, Fangfang pun berdiri dan memandang ke luar, mungkin Luo Qing telah pulang, pikirnya.

Dari luar tampak sesosok bayangan manusia, melangkah dengan badan agak membungkuk, terlihat aneh, seperti bukan Luo Qing, tapi seorang wanita tua yang jalannya terhuyung-huyung.

Dia pikir mungkin ibunya Luo Qing, jadi Fangfang pun mendiamkannya, wanita tua berjalan ke depan pintu, lalu berseru dengan nada lemah : “Nona, nona,” terdengar suara nenek-nenek.

Karena gelap, sehingga muka nenek itu tidak terlihat dengan jelas, tapi Fangfang merasakan udara dingin yang samar-samar menusuk relung hatinya, dan seketika membuatnya merinding, kemudian Fangfang meresponnya : “Nek, nenek memanggil saya ya ?”

“Ya, siapa lagi kalau bukan kamu, mumpung Luo Qing tidak ada di sini, nenek akan membebaskanmu,” kata si nenek itu.

Mendengar itu, Fangfang tersenyum senang, nenek itu mengambil kunci dan membuka pintunya, kemudian memberikan secarik kertas warna kuning pucat kepada Fangfang : “Ini peta keluar dari hutan ini, kau pergilah dari sini secepatnya.”

Fangfang mengucapkan terima kasih kepada si nenek, lalu melihat-lihat sejenak gambar peta itu, kemudian berlari dengan cepat, dan ketika menoleh kembali, nenek itu sudah lenyap entah kemana.

Penduduk di desa itu sangat jarang. Tapi ada yang memelihara anjing, dan aniing itu akan menyalak begitu mendengar suara langkah kaki, tapi kemudian tenang kembali setelah dihardik pemiliknya.

Fangfang terus berlari menyusuri sepanjang jalan setapak, ia terus berlari seperti lalat yang terbang semaunya, berulang kali ia jatuh terpeleset dan berlari lagi dengan perasaan tegang.

Sampai tengah malam, Fangfang telah meninggalkan desa itu sekitar 7 – 8 km jauhnya, berlari tanpa henti sejauh itu, benar-benar membuatnya sangat lelah, dan tidak peduli di mana dirinya, ia pun duduk istirahat dan tertidur saking lelahnya.

Keesokan paginya, saat fajar menyingsing Fangfang dibangunkan seseorang, orang itu membawa cangkul, sambil bicara denga bahasa yang tidak dipahami.

Melihat Fangfang terlihat bingung, orang itu pun membawanya pulang ke rumah, dan mencari penduduk setempat yang mengerti bahasa Mandarin.

Orang itu mengatakan kepadanya, di sini adalah daerah suku Miao di Yongxing County, dan dia adalah mahasiswa pertama di daerah Miao ini.

Fangfang pun menceritakan peristiwa yang dialaminya, dan minta bantuannya untuk melaporkan hal itu ke polisi.

Tak lama kemudian, polisi pun tiba di lokasi yang ditunjuk dan menyelamatkan beberapa gadis muda yang dikurung.

Namun, karena karena tak tahan dengan siksaan batin selama beberapa hari berturut-turut, sehingga beberapa gadis muda diantaranya mengalami gangguan mental.

Sementara itu, Wang tersangka perdagangan manusia dan pembelinya pun langsung diciduk, dan digiring ke kantor polisi.

Fangfang yang ingin mengucapkan terima kasih kepada nenek yang telah menyelamatkannya itu kemudian mencari tahu tentang keberadan si nenek di temani polisi setempat.

Tapi penduduk setempat mengatakan bahwa di desa mereka tidak ada sosok nenek seperti itu, namun, salah seorang penduduk yang mendengar gambaran Fangfang tentang nenek tersebut, mengatakan bahwa nenek yang digambarkan Fangfang itu adalah seorang wanita tua yang tinggal di sekitar rumah Luo Qing, orang yang menyekapnya.

Tapi wanita tua itu telah meninggal dunia setengah tahun yang lalu.

Namun Fangfang yang tidak percaya dengan keterangan itu lalu mencari tahu dan ingin membuktikannya dengan mengunjungi tempat tinggal (kuburan) si nenek.

Fangfang terkejut seketika saat melihat kuburan itu, karena nenek yang menyelamatkannya waktu itu sama persis dengan foto yang terpajang di makam itu !(jhn/yant)

Sumber: happytify.cc



Loading...
loading...

Leave a Comment