Kerja Keras untuk Istri, Bahkan 3 Tahun Untuk Beli Mobil! Ternyata Istrinya Langsung Dicerai Karena Hal Ini !

Bagi suami yang baik, apapun akan ia persembahkan supaya sang istri dan keluarga bisa bahagia.
Termasuk banting tulang siang malam demi mencukupi semua kebutuhan.
Seperti yang dilakukan pria ini demi sang istri tercinta.

Namun sayang, ketika satu persatu impiannya terwujud ia menghadapi kenyataan pahit dan dengan berat hati menceraikan istrinya karena hal ini.

Berikut kisahnya dilansir Eberita.org
Aku terlahir di keluarga yang sederhana banget. Orangtuaku bekerja sebagai seorang petani di desa.
Aku dibesarkan oleh kedua orangtuaku di sebuah rumah yang terletak di atas gunung, jadi setiap malam aku bisa melihat pemandangan malam yang indah banget.
Aku cukup senang dengan keadaanku, tapi sayangnya disini tidak ada terlalu banyak kesempatan untuk mendapatkan uang yang lebih banyak.

Ketika aku sudah mulai berusia 25 tahun, aku pun dikenalin dengan Winda oleh kedua orangtuaku.
Winda sendiri berasal dari desa tetangga dan ketika berkenalan denganku, dia masih berusia 21 tahun.
Ketika pertama kali bertemu, kami berdua malu-malu kucing dan gak berani menatap satu sama lain.
Akhirnya orangtuaku pun membantuku dan kami pun mulai bisa mengobrol satu sama lain. Dari sana, aku pun melihat Winda sebagai seseorang yang cukup dewasa dan mandiri.

Setelah beberapa bulan mengenalnya, aku pun jatuh hati padanya.
Aku pun melamarnya untuk menjadi istriku dan menikahinya dengan upacara pernikahan yang sederhana banget waktu itu karena aku sendiri tidak memiliki uang terlalu banyak.
Setelah menikah, aku pun memutuskan untuk pergi merantau keluar kota supaya aku bisa membahagiakan istriku nantinya.

Dengan berat hati, aku pun menyampaikan salam perpisahanku dengan Winda dan mulai mencari pekerjaan yang cocok denganku di kota.
Karena pendidikanku juga tidak terlalu tinggi, akhirnya aku cuma bisa mendapatkan pekerjaan sebagai tukang cuci mobil.

Aku pun memaksa diriku sendiri untuk belajar bagaimana caranya memperbaiki mobil dengan sendirinya karena aku punya satu prinsip bahwa aku harus bisa menjadi seseorang yang sukses, bukan cuma kerja ikut orang saja.
Aku pun belajar dengan giat banget supaya aku bisa membuka usahaku sendiri.
Namun istriku pernah beberapa kali meneleponku untuk menyuruh pulang lebih sering ke rumah karena dia takut kalau hubungan jarak jauh seperti bisa mempengaruhi kehidupan rumah tangga kami.

Aku pun berjanji padanya untuk pulang setengah tahun sekali karena transportasi dari kota ke desa sangat repot dan jauh.
Aku pun menyuruh Winda untuk bersabar sedikit lagi, dengan begitu, aku akan merasa lebih tenang dan bisa melanjutkan pekerjaanku dengan baik.
Aku pun akhirnya memulai usaha reparasi mobil bersama kedua temanku di kota.

 
Dan tak disangka, langganan cuci mobil tempatku bekerja dulu sering banget datang ke tempatku untuk servis mobil dan memperkenalkan tempatku pada teman-temannya.
Alhasil, usahaku pun berjalan semakin lancar setiap hari dan pemasukanku pun bertambah banyak banget.
Tapi karena aku dan teman-temanku baru saja memulai usaha ini, kami pun sibuk bukan main melayani para pelanggan kami.

Karena hal ini jugalah, aku pun mulai jarang menelepon ke rumah, bahkan kadang aku hanya menelepon sebulan sekali.
Istriku pun gak pernah mencariku karena dia gak pengen menjadi sebuah tekanan untukku dan aku cukup berterimakasih untuk hal itu.
Setelah 3 tahun, usahaku semakin gede dan aku pun akhirnya membuka cabang di berbagai tempat.
3 tahun berlalu, aku pun mulai merindukan kampung halamanku.

Aku ingin pulang ke rumah.
Tapi aku berpikir, aku harus membawa sesuatu yang luar biasa agar kedua orangtuaku serta istriku bangga terhadap hasil kerjaku.
Aku akhirnya membeli sebuah mobil mewah dan hari itu juga, aku pun naik mobil tersebut pulang ke desa.

Ketika aku sampai, orang di desa hampir tidak mengenaliku karena aku sudah jauh berubah dari penampilanku yang dulu.
Istri dan orangtuaku pun terlihat begitu kaget ketika aku pulang tiba-tiba setelah 3 tahun tidak pernah menghubungi mereka.

Aku melihat istriku berubah menjadi semakin cantik sekarang.
Dia sudah bisa berdandan dan juga memakai gaun yang indah banget.
Saat itu juga, aku langsung merasa aku pria paling beruntung di dunia dan aku pun memeluk istriku dengan erat.

Semenjak saat itu, aku pun memutuskan untuk membawa istri serta keluargaku untuk tinggal di kota.
Tak berapa lama setelah kami pindah, istriku pun memberitahukan sebuah sebuah berita besar, dia tengah mengandung anak pertama kami!
Aku pun bahagia bukan main dan mempersiapkan segala sesuatu untuk menyambut kehadiran anak pertama kami.

Tapi kebahagiaanku ternyata gak bertahan lama.
Suatu hari, ketika istriku sedang mandi, aku pun secara gak sengaja melihat ada sebuah message dari seseorang bernama Ryan di hape istriku.

Message itu bertuliskan, "Kamu mau sampai kapan nyembunyiin semua ini dari suamimu? Aku sudah berkorban banyak untuk kamu, suamimu harus tahu yang sebenarnya terjadi."
Ketika aku melihat message ini, emosiku pun langsung naik dan memarahi istriku.
Istriku pun meminta maaf padaku dan berkata bahwa selama aku pergi merantau, dia merasa kesepian.

Dia pun mengaku bahwa dia mengenal Ryan dari temannya ketika mereka sedang pergi jalan-jalan.
Lama-kelamaan, Ryan memperlakukannya dengan sangat baik dan Winda pun akhirnya jatuh hati padanya.
Setelah mendengar semua ini, hatiku sakit banget, aku merasa dikhianati, dibohongin, dan dibodoh-bodohin oleh istriku sendiri.

Aku pergi merantau begitu jauh demi siapa emangnya?
Semuanya itu aku lakukan untuk istriku supaya dia bisa hidup lebih bahagia ketika bersamaku. Tapi apa balasannya?
Dia malah main di belakangku! Aku pun menjadi gak percaya kalau anak yang ada di dalam kandungannya itu adalah anak kandungku.

Winda pun memohon padaku supaya aku memaafkannya, tapi hatiku sudah terlanjur kecewa dan sakit.
Walaupun aku tahu bahwa aku memang salah terlalu sibuk dengan urusan pekerjaanku selama merantau hingga tidak ada sedikit waktu pun yang tersisa untuk Winda, tapi tetap saja, Winda telah mengkhianatiku.

Aku pun akhirnya memutuskan untuk menceraikannya saat itu juga.

tribunnews.com

Loading...
loading...

Leave a Comment