Ini Gagasan Bahrun Naim Dukung ISIS dan Tebar Teror di Jakarta

Bahrun Naim disebut sebagai sosok yang bertanggung jawab atas serangkaian teror di kawasan Sarinah, Jakarta, Kamis (14/1). Lelaki yang dilaporkan hilang sejak 2015 ini diyakini bergabung dengan ISIS dan bersembunyi di ibu kota Raqqa, Suriah.

Dalam pola penebaran semangat nonhumanisnya, Bahrun Naim memiliki situs web yang memuat berbagai pokok pikirannya. Dalam situs tersebut lebih banyak mendukung gerakan ISIS dan pola menciptakan aksi teror.

Teror yang meledak di Paris, ternyata menjadi inspirasi bagi buronan yang pernah membawa seorang mahasiswi ke Suriah dan bergabung dengan ISIS di kota Raqqa tersebut. Sebab teror tersebut dibangun oleh delapan pemuda yang berusia 15 hingga 18 tahun.

Selain itu, dia menyebut Paris dianggap sebagai tempat yang patut dihantam teror. Hal itu karena Pemimpin Perang Salib Palestina, Richard Lion Hearth pernah bermukin lama di Perancis.

Lelaki yang pernah ditimpa vonis 2,5 tahun penjara itu juga mewacanakan menggeser gerilya hutan menjadi gerilya kota. Perang senyap di hutan diubah mindsetnya menjadi perang terbuka di jantung kota. Dia menyepakati digunakannya teknik jebakan yang kejam dan tak manusiawi, teknik propaganda membabi-buta, serta teknik penyergapan dilakukan dengan senyap dan cepat.

Capaian dari teror Bahrun Naim ialah terciptanya ketakutan publik yang luar biasa. Hingga bisa takluk dengan hasrat berkuasa para teroris. Cara yang dia ungkapkan ialah dengan menggunakan bom bunuh diri, bom mobil, penculikan, penyergapan, dan pembunuhan di ruang publik.

Bahrun Naim melalui teori sel komandonya membeberkan strategi turun gunung untuk mengancam publik yang tak elok ditiru. Beberapa di antaranya ialah dengan memetakan lokasi, target, hingga kemungkinan jalur meloloskan diri. Sementara persenjataan yang harus dibawa disesuaikan dengan kemungkinan kekuatan dari pihak yang melawan. Maka dari itu semakin besar perkiraan resistensi yang muncul, tentu jenis perlengkapan senjata lebih canggih.

Dalam hal perekrutan dan perluasan jejaring, Bahrun Naim menjelaskan terkait pola pengumpulan berbentuk kurikulum. Dia menamainya sebagai penjejalan dakwah kepada masyarakat yang disebarkan oleh ansharud daulah. Kemudian metode penebarannya secara acak. Namun menggunakan teknologi sesuai jenis zaman. Dia merekomendasikan materi cuci otak disalurkan melalui aplikasi android, aplikasi yang bisa diakses melalui PC, eBook, dan sebagainya. (merdeka)



Loading...
loading...

Leave a Comment