Cewek Nakal Ini Akhirnya Menangis saat Melihat Ayahnya Melakukan Ini Tengah Malam, Sejak Itu Ia Pun.

Setiap orang pernah mengalami masa remaja dengan coraknya masing-masing, di usia muda yang penuh gejolak, pemberontakan, kita selalu merasa orangtua tidak memahami diri kita.

Ketika remaja, kita selalu beranggapan melawan dan membrontak adalah simbol dari “kepribadian” dan “kharisma”, selalu membuat orangtua marah juga tertekan.

Namun, seiring berlalunya waktu, suatu hari nanti, kita akan sadar seketika, dan akan merasakan bahwasannya orang tua sebenarnya selalu menunggu anak tercintanya bisa sadar kembali.

Ini adalah sebuah kisah nyata dari seorang netizen di Taiwan yang berbagi pengalamannya di Dcard (www.dcard.tw-Sebuah situs komunitas terbesar di Taiwan).

Berawal dari ekonomi keluarga yang tidak memadai, ibu dan ayahnya harus bekerja dari pagi hingga malam.

Sampai-sampai dia tidak mendapatkan perhatian dan kasih sayang orangtuanya. Berikut kisahnya ;

Demi menarik perhatian orangtua, aku mulai membrontak sejak duduk di bangku SMP.

Saat itu, aku berubah total menjadi sangat nakal, kerap berkumpul bersama cewek-cewek nakal. Aku mulai merokok, pakai anting-anting, mengecat warna rambut dan kebiasaan buruk lainnya.

Ayah dan ibu yang sudah pasrah pun, sempat marah dan mengancam untuk tidak mengakuiku sebagai putrinya.

Tapi suatu hari pada larut malam, aku langsung menangis ketika melihat ayah yang hanya seorang buruh kasar melakuan satu hal yang membuatku p
Ilustrasi

Nilaiku dulu yang selalu masuk 10 besar, sekarang jadi 3 besar, tapi dari belakang, sehingga membuat ayah sangat sedih.

Ini semua aku lakukan, hanya untuk mencari perhatian dan kasih sayang dari luar.

Orangtuaku mendidikku dengan disiplin super ketat, ayah mendidikku dengan cara-cara tradisonal seperti memukul dan caci maki (kata-kata kasar dengan nada tinggi), aku selalu dipukul kalau melawan, kemudian dihukum berlutut atau jongkok di depan altar leluhur.

Tapi lambat laun, seiring dengan pemberontakanku, ayah tidak pernah memukulku lagi, ketika itu aku begitu gembira mengira ayah sudah menyerah, dan aku merasa “bangga” karena pembrontakanku berhasil membuat ayah takluk, tapi entah kenapa, sampai suatu hari, bayangan ayah membuat hatiku serasa diiris sembilu …

Ayahku seorang buruh kasar yang bekerja dengan sistem ship, sehingga waktu istirahat pun tidak teratur, kerap mengalami luka bakar dan memar di badannya.

Suatu hari, karena tidak hati-hati lagi-lagi ayah mengalami luka bakar saat kerja, seluruh kakinya diperban. Tapi demi menghidupi keluarga, ayah berusaha bertahan dan terus bekerja seperti biasa.

Malam itu, diam-diam aku mengintip dari pintu ayah yang baru berangkat kerja ship malam, dan kebetulan aku melihat pemandangan yang membuatku perih.

Ketika itu, ayah yang baru berjalan beberapa langkah berjongkok dengan susah payah, kemudian menggosok perlahan luka di kakinya, aku melihat dengan jelas ekspresi wajahnya yang meringis kesakitan.

Detik berikutnya, ayah berusaha berdiri, lalu berjalan tertatih-tatih dan hilang dari pandanganku.

Pemandangan yang memilukan itu seketika membuatku tersadar, dan tanpa sadar air mataku berlinang.

“Aku benar-benar bajingan, tidak bisa menghargai ayah yang bekerja keras, meskipun keadaannya tidak memungkinkan,” Gumamku dalam hati.

Tapi, ayah tak pernah mengeluh, bahkan selalu memenuhi kebutuhanku. Memang ayah orangnya keras, tapi, dia tidak pernah menyalahkan aku yang nakal dan keras kepala ini. Dan aku pun menangis, untuk pertama kalinya dalam hidupku, di malam itu.

Detik itu juga, aku bertekad berubah, aku warnai rambutku jadi hitam kembali, anting-anting aku lepas.

Aku kembali memulai hidup baru, mulai belajar dan sekolah dengan serius.

Singkat cerita aku pun lulus dengan nilai yang memuaskan dan akhirnya berhasil diterima di universitas ternama.

Berkat usaha keras dan tekatku, aku menemukan diriku kembali menjadi anak kebanggaan ayah.

Aku membayangkan masa laluku yang kelam dan melihat kembali keluargaku, aku sangat bersyukur dengan upaya keras ayahku selama ini.

Masih hangat dalam ingatanku, saat malam minggu aku selalu keluyuran, makan di café, sementaraa ayahku cuma makan makanan paket di pinggiran jalan, demi menabung untuk masa depanku.

Pekerjaan ayah memang tidak menetap, kadang pagi, kadang malam.

Akhirnya sekarang dia menyadari, “Apa yang ayah berikan mungkin tidak selalu yang terbaik, tapi dia sudah memberikan segala miliknya”,

Karena itu, pada kesempatan itu, dia yang selalu meminta pada ayah, tapi tak pernah mencucapkan sepatah kata terima kasih pada ayahnya itu, ingin menyatakan terima kasihnya pada sang ayah.

“Terima kasih ayah, buruh kasarku,” terima kasih atas segala upaya keras ayah yang telah menopang keluarga ini. Terima kasih atas cucuran keringat dan darahmu yang telah mendorongku ke tempat yang lebih tinggi!

Kisah nyata dari pengalaman pribadi remaja nakal yang kembali menemukan dirinya ini membuat kita mengerti satu kebenaran, yaitu, selama kamu bersedia untuk membuka lembaran baru, bersedia memberikan satu kesempatan pada dirimu, maka semua orang bisa memulainya dari awal.

Di dunia ini, selain orangtua, kita tidak akan menemukan sosok orang kedua yang bisa mencintai dan melindungi kita dengan segenap jiwa raganya.

Mudah-mudahan kisah nyata ini dapat menyadarkan lebih banyak orang agar bisa bangkit kembali dari keterpurukannya.

Ketahuilah, jika kamu bersedia sadar kembali, orangutamu akan selalu berada di sisimu, menunggu anak-anak tercintanya pulang ke rumah.



Loading...
loading...

Leave a Comment