12 Tahun Suaminya Menghilang, Menjelang Kematiannya, Sang Anak Menemukan Ini di Peti Mati yang Dibua

Bagi Liu Ping-ling, kedokteran sudah tak berdaya untuk menyembuhkan penyakitnya, anaknya kemudian membawanya pulang ke kampung halaman.

Hari-hari yang bisa dinikmati sudah tidak banyak lagi, tapi dia masih punya satu harapan yang belum terpenuhi, yaitu, suaminya yang bekerja di luar kota telah menghilang selama 12 tahun, ia juga tidak tahu ke mana perginya selama itu, dan yang paling dirindukannya sekarang adalah dia.

Liu Ping-ling kini adalah wanita tua dari desa, semasa muda kecantikannya terkenal di seluruh desa, sendangkan sang suami adalah seorang pemuda terpelajar yang juga dari desa.
Ilustrasi.(Foto : greatdaily)

Tiga tahun lamanya mereka memadu kasih sampai akhirnya menikah setelah melalui berbagai rintangan.

Keluarga suaminya pernah menentang hubungan mereka, bahkan mengancam akan memutuskan hubungan keluarga, tapi demi istrinya, ia rela tinggal di pelosok desa, hidup bersama dengannya.

Mereka hidup bercocok tanam, ia merasa sangat bahagia bersama dengan suaminya yang sangat menyayanginya.

Mereka semakin merasakan kebahagiaan itu dengan keberadaan sepasang anak mereka.

Namun, entah sejak kapan, sang istri melihat suaminya selalu tampak muram, beberapa kali sudah ia ingin bertanya, tetapi selalu menggantung di bibir.

Pada suatu hari, suaminya bilang mau kerja di kota, ia memandang ke dua anaknya, dan meski terasa berat ditinggalkan sendirian, tapi ia tahu tidak boleh membelenggu laki-laki.

Setelah suaminya pergi, tinggallah dia sendiri merawat anak-anak.
Ilustrasi. (Foto: greatdaily)

Setiap beberapa waktu sekali suaminya selalu pulang berkumpul dengan sekeluarganya.

Karena tak tega melihat orangtuanya harus memikul beban keluarga, putri sulungnya lalu berhenti sekolah untuk membantu orang tuanya bercocok tanam dan mengurus pekerjaan rumah tangga, mencari uang (kerja) untuk membiayai sekolah adiknya.

Saat putranya menginjak SMA, suaminya menjadi lebih sering pulang ke rumah.

Setelah lulus kuliah, anak laki-lakinya kerja dan tinggal di kota.

Seiring dengan pernikahan putra-putrinya, istrinya kembali melihat suaminya tampak gundah dan gelisah, badannya juga mulai kurus, dan jadi pelupa.

Keesokan paginya, suaminya berkata padanya, bahwa dia ingin keluar mencari uang (kerja) sebagai bekal hari tua mereka.

Ia berusaha membujuk suaminya agar tidak pergi, satu bulan lagi menantu perempuan mereka akan melahirkan, dan putranya juga mengatakan akan membawa mereka tinggal di kota setelah anaknya lahir, sekalian membantu menjaga cucunya nanti di kota.

Suaminya bilang, bahwa meskipun kondisi ekonomi putranya lumayan baik, tapi bagaimanapun juga perlu biaya untuk merawat anak dan menafkahi mertuanya.

Ia lebih tak ingin lagi menambah beban putrinya, karena kondisi ekonomi putrinya tidak begitu baik.

Terkadang ia merenung, dan merasa bersalah pada anak-anaknya, karena saat keluarga susah ketika itu, putrinya yang membantu menopang beban hidup keluarga.

Sekarang meski tidak sampai kelaparan, tapi beban keluarga putrinya sendiri juga berat, ada dua anak yang masih kecil dan sepasang mertua yang sakit-sakitan.

Namun, suaminya akhirnya pergi juga, dan mengatakan akan segera kembali setelah cukup mengumpulkan uang untuk hari tua. Satu bulan setelah kepergian suaminya, ia lalu dijemput ke kota oleh putranya.

Tak disangka kali ini suaminya pergi dan tak kembali lagi selama 12 tahun.

Dalam satu tahun, beberapa kali ia pulang ke kampung hanya untuk menanti kepulangan suaminya, namun, sampai ia jatuh sakit dan dirawat di rumah sakit dalam kondisi kritis, tak pernah terlihat sedikit pun bayangan suaminya kembali.

Liu Ping menetap beberapa waktu di desa, namun, kondisi sakitnya kembali memburuk, melihat kondisi yang kritis itu, putranya sudah menyiapkan segala sesuatunya. Di rumah tuanya itu, ada sebuah peti mati yang dulu dibuat oleh ayahnya.
Ketika ia membuka tutup peti mati, ia melihat sebuah bungkusan, di dalamnya terdapat selembar surat dan seberkas laporan medis. Ia melihat isi surat dan goresan huruf yang sangat dikenalnya, yaitu tulisan ayahnya.
Surat yang ditingglkan sang suami untuk Liu Ping-ling, istrinya. (GreatDaily)

Matanya pun berkaca-kaca ketika melihat/membaca isi surat ayahnya :

Untuk Ping Ling istriku dan anakku :

Ketika kalian melihat surat ini, mungkin ayah sudah tidak ada lagi di dunia.

Dua tahun lalu, ayah didiagnosis menderita kanker, dan hanya dapat hidup selama dua tahun, tapi ayah bersyukur masih bisa bertahan selama itu.

Liang erl dan Mei erl anakku, jangan salahkan ayah yang tidak memberitahu kalian tentang sakit ini.

Penyakit ayah ini tidak tersembuhkan lagi, jadi tidak perlu menghambur-hamburkan uang untuk rumah sakit.

Ayah tahu kalian anak yang sangat berbakti, ayah percaya kalian bisa menjaga dan merawat ibu kalian dengan baik, jadi ayah pergi dengan nyaman dan tenang, semoga ibu kalian selalu sehat dan panjang umur.

Ayah ingin sekali melihat kelahiran cucu ayah, tapi penyakit ini semakin parah dari hari ke hari.

Ayah merasa waktu ayah sudah tidak banyak lagi, jadi ayah tidak ingin kepergian ayah hanya akan mencairkan suasana bahagia di hari kelahiran anak kalian, ayah memilih pergi, semoga kalian hidup bahagia.

Ping Ling istriku, aku telah menyusahkanmu selama hidup bersamaku, membuat kamu menderita dan tersiksa sendirian di rumah, aku amat sangat menyesal tidak bisa membahagiakanmu.

Aku minta maaf, aku tak bisa membalas kebaikanmu dalam kehidupanku sekarang, semoga dalam kehidupan mendatang aku bisa menebusnya untukmu.

Peti mati ini, sebenarnya aku siapakan untuk diriku, kemudian aku pikir-pikir, lebih baik untukmu saja!

Aku pergi, jangan merindukan, aku yang mencintai kalian!

Setelah membaca surat itu, sepasang kaki Liang erl, anaknya itu tiba-tiba lemas dan berlutut di atas lantai, ia ingin menangis, tapi ditahannya, tidak membiarkan air matanya mengalir.

Setelah cukup lama diam membisu, ia membawa surat itu dan berjalan ke samping ibunya yang buta huruf, lalu berkata pada ibunya sambil tersenyum, ini surat dari ayah bu, katanya ayah sudah keluar negeri, nanti baru pulang setelah mengumpulkan banyak uang.

Wajah sang ibu seketika tersenyum, dan samar-samar mengatakan : “Syukurlah kalau masih hidup” tak lama kemudian, dan secara perlahan ia pun memejamkan matanya dalam keheningan.



Loading...
loading...

Leave a Comment